UJIAN TENGAH SEMESTER GENAP-2020/2021-PENGANTAR MANAJEMEN-KAMPUS ITBI MILENIAL MEDAN

Nama : Falensius Mendrofa 
Kelas : Pagi
Jurusan : Teknik Industri S1
Ujian tengah semester genap 2020/2021

                JAWABAN :

1).Unsur manejemen ini dikenal dengan istilah 6M karena terdiri dari 6 unsur yang berawalan huruf M dalam bahasa Inggris, yakni man (manusia), money (uang), materials (bahan), machines (mesin), methods (metode), dan market (pasar).

2). sifat umum yang dapat mempengaruhi keberhasilan kepemimpinan organisasi yaitu:     Kecerdasan Kedewasaan dan keleluasaan hubungan sosial Motivasi diri dan dukungan berprestasi Sikap – sikap hubungan kemenusiaan .

3).Berikut adalah beberapa tipe kepemimpinan yang paling sering ditemukan saat bekerja.

1. Otoriter

Kepemimpinan otoriter terpusat pada bos sebagai pemegang kekuasaan tertinggi. Pada tipe kepemimpinan ini, para pemimpin membuat keputusan, peraturan, dan prosedur berdasarkan pemikiran sendiri. Mereka jugalah yang bertanggung jawab.

Lingkungan kerja yang otoriter tidak memberikan keleluasaan kepada orang-orang yang bekerja di dalamnya. Akan tetapi, tipe kepemimpinan ini sangat berguna dalam situasi genting ketika keputusan harus diambil dengan cepat.

2. Demokratis

Berkebalikan dengan otoriter, tipe kepemimpinan demokratis mengutamakan kontribusi orang-orang di lingkungan kerja. Pemimpin kemudian menentukan keputusan akhir, tapi ia akan mendelegasikan wewenangnya kepada orang lain.

Tipe kepemimpinan ini sangat cocok diterapkan dalam bidang medis atau teknologi. Pasalnya, bidang-bidang ini membutuhkan kolaborasi antara tiap anggotanya agar bisa berfungsi secara optimal.

3. Delegatif

Para pemimpin yang menerapkan tipe kepemimpinan delegatif memberikan wewenang bagi anggotanya untuk mengambil keputusan. Tipe kepemimpinan ini sangat berguna bila dijalankan oleh orang-orang berpengalaman.

Meski begitu, tipe kepemimpinan delegatif jarang diterapkan karena lebih banyak kelemahannya. Kelemahan tersebut di antaranya motivasi yang rendah, kecenderungan anggota untuk saling menyalahkan, dan kurangnya produktivitas.

4. Transformasional

Berbeda dengan tipe lainnya, tipe kepemimpinan transformasional berfokus pada perubahan dalam organisasi, kelompok, dan unsur lain yang terlibat di dalamnya. Sang pemimpin mampu memotivasi kelompok dan mengarahkannya pada perubahan yang baik.

Para pemimpin transformasional biasanya cerdas, enerjik, dan penuh semangat. Mereka mendorong orang-orang yang dipimpinnya untuk melakukan beragam hal di luar target awal sehingga pencapaian yang dihasilkan juga tinggi.

5. Transaksional

Tipe kepemimpinan transaksional berfokus pada status pemimpin dan orang-orang yang dipimpinnya. Terdapat garis komando jelas yang harus dipatuhi sehingga semua orang memahami perannya masing-masing.

Sebagai gantinya, para pemimpin memberikan reward bagi anggota kelompok yang memiliki performa baik. Kekurangannya adalah tidak adanya ruang untuk berkreasi dan berpikir di luar tatanan yang telah ada.

6. Situasional

Ini merupakan tipe kepemimpinan yang unik, sebab para pemimpin bertindak berdasarkan lingkungan kerja dan orang yang dihadapi. Teorinya mengatakan bahwa seorang pemimpin bisa berfungsi dengan optimal bila perannya sesuai dengan situasi kerja.

Ada empat cara yang dilakukan dalam tipe kepemimpinan situasional. Di antaranya:

  • Mengarahkan langsung (directing): pemimpin memberikan seluruh instruksi secara spesifik.
  • Melatih (coaching): pemimpin memberikan sebagian besar instruksi disertai sedikit dorongan.
  • Mendukung (supporting): pemimpin memberikan sebagia kecil instruksi, tapi banyak menawarkan bantuan.
  • Delegasi (delegating): pemimpin tidak lagi memberikan instruksi maupun bantuan karena anggota kelompoknya telah mampu melakukan tugas tersebut.

7. Karismatik

Pada tipe kepribadian karismatik, pemimpinnya adalah para sosok yang memiliki kepribadian kuat. Ini merupakan sumber kekuatan yang membuat banyak orang menghargai nilai yang mereka anut.

Para pemimpin karismatik tidak sekadar terkenal karena posisi atau kepemilikan terhadap suatu hal. Mereka mampu mengubah arah pandang pengikutnya yang sudah mengakar menjadi suatu hal yang lebih baik lagi.

8. Melayani / Servant leadership

Tipe kepemimpinan selanjutnya yakni para pemimpin yang tak sungkan melayani. Tipe kepemimpinan ini percaya bahwa, ketika anggota tim merasa terpenuhi secara pribadi dan profesional maka mereka akan mampu menghasilkan pekerjaan yang hebat bagi perusahaan. 

Pemimpin ini mengutamakan kepuasan bagi karyawan, sehingga tidak mungkin bila mereka tidak dihormati oleh tiap karyawan. Mereka adalah tipe kepemimpinan yang baik dan terampil dalam membangun moral karyawan serta mampu membuat karyawan betah bekerja lama di perusahaan. 

Umumnya, tipe kepemimpinan seperti ini ada dalam perusahaan nirlaba. 

9. Birokrasi 

Pemimpin dengan tipe birokrasi mengharapkan anggota tim untuk mengikuti aturan dan prosedur yang tepat, sesuai yang sudah ditulis. Tipe kepemimpinan ini fokus pada tugas dalam hierarki di mana setiap karyawan sudah memiliki daftar tanggung jawab masing-masing. 

Tipe kepemimpinan ini paling cocok bekerja dalam industri atau departemen yang sangat diatur seperti keuangan, kesehatan dan pemerintah. 

10. Visioner

Tipe kepemimpinan terakhir adalah tipe visioner. Pemimpin yang memiliki tipe ini biasanya memiliki visi yang jelas dengan selalu berinovasi dalam rangka mencapai target yang ditentukan.

Mereka yang memiliki tipe kepemimpinan ini, selalu mendorong anggota timnya untuk selalu memacu dan mencoba hal-hal baru dalam meningkatkan kinerja dan menemukan metode yang ideal dalam proses pencapaian tujuan.

Tipe ini juga memberikan kepercayaan penuh kepada anggota timnya untuk berkembang. Dengan kepemimpinan ini, anggota tim dapat berkembang secara cepat dengan belajar dari pengalaman sebelumnya dan menemukan solusi secara mandiri.

[20/4 11:34] Falensius Mendrofa 🙏: 4).Berbagai Bentuk Kesalahan Manajemen SDM yang Sering Terjadi 

1. Tidak Jelasnya Informasi Mengenai Data Karyawan

Sangat penting bagi perusahaan untuk melengkapi seluruh data karyawan, seperti informasi dasar, riwayat pekerjaan, detail gaji, dan informasi lainnya agar bisa disesuaikan dengan kondisi karyawan saat ini. Agar menaati seluruh kebijakan perusahaan, maka ada baiknya tim HRD selalu memperbarui informasi karyawan dan informasi tersebut bisa disimpan dengan baik.


Manajemen SDM yang tidak melakukan aturan ini dalam perusahaan maka sebenarnya akan membuat kesalahan sumber daya manusia yang cukup substansial, tapi cukup umum.


2. Menganggap Remeh Pelatihan SDM

Meluangkan waktu untuk memberi suatu pelatihan kerja pada karyawan adalah salah satu bentuk investasi yang tentunya akan sangat berharga untuk perusahaan. Dengan cara memasukkan sistem pelatihan dalam proses orientasi, maka karyawan akan terlibat penuh dan lebih paham tentang cara menggunakan keahliannya agar bisa memberikan dampak yang baik untuk perusahaan.


Manajemen SDM yang mampu menyediakan waktu pelatihan juga akan memberikan efek yang bisa dirasakan secara langsung bagi perusahaan. Para karyawanpun akan lebih bersemangat dalam mengerjakan seluruh tugas yang didapat selama proses pelatihan dan orientasi. Selain itu, karyawan juga harus mampu melakukan berbagai hal yang berguna pada perusahaan dimana ia bekerja.


Penting untuk selalu diingat pula bahwa performa karyawan akan tercermin secara akurat dalam ulasan performa mereka, termasuk di dalamnya keterampilan, peluang, bidang dan perkembangannya.


3. Gegabah dalam Merekrut Karyawan Baru

Segala bentuk proses perekrutan dan juga promosi yang terburu-buru bisa menimbulkan berbagai jenis masalah serius bagi perusahaan. Oleh karena itu, harus dipertimbangkan secara matang oleh tim HRD sebelum akhirnya memutuskan untuk merekrut karyawan baru untuk perusahaan.


Pertimbangan yang harus dilakukan oleh perusahaan adalah apa perusahaan membutuhkan tambahan karyawan dalam waktu dekat? Seperti apa kandidat yang dibutuhkan, serta apa tujuan yang ingin dicapai?


Ada baiknya perusahaan menunggu waktu yang agak lama agar bisa mendapatkan calon karyawan yang kompeten dan sesuai dengan apa yang mereka butuhkan, daripada merekrut kandidat baru dalam kurun waktu cepat, namun potensinya masih kurang dari apa yang perusahaan butuhkan.


4. Pemberian Job Description yang Tidak Lengkap

Job descriptions merupakan hal penting yang harus dijelaskan secara sungguh-sungguh kepada para kandidat yang akan melamar maupun kepada karyawan yang sudah terpilih dalam perusahaan tersebut. Hal ini tidak bisa dipandang sebelah mata karena mereka harus mengetahui pekerjaan wajib apa yang harus mereka kerjakan, dan apakah itu sudah sesuai dengan posisinya atau tidak.


Kenapa hal ini penting? Karena tim HRD sering kali menyebarkan iklan lowongan yang kurang memberikan penjelasan lengkap atas job description nya. Sehingga ketika saat melakukan wawancara, para kandidar sering kali bingung karena apa yang dibicarakan selama wawancara ternyata lebih banyak dari apa yang dijelaskan pada saat iklan lowongan kerja tersebut diterima oleh kandidat.


5. Menjanjikan Hal yang Tidak Sesuai

Ketika anggota HRD melakukan sesi wawancara pada para kandidat atau calon karyawan, penawaran yang diberikan haruslah sesuai dengan apa yang perusahaan itu tawarkan pada iklan lowongan pekerjaan. Kenapa? Karena tidak jarang ada false commitment atau menjanjikan sesuatu yang tidak jelas atau tidak sesaui dengan kenyataannya.


Saat merekrut kandidat yang memiliki potensi tinggi, maka pihak manajemen SDM terkadang memberikan suatu “angin segar”, kompensasi manis, menjanjikan promosi, memperlihatkan histori manis perusahaan atau menjanjikan hal-hal manis lainnya.


Padahal, tidak jarang perusahaan gagal untuk memenuhi janji tersebut, sehingga banyak karyawan yang merasakan penyesalan. Walaupun hal ini dilakukan demi meningkatkan keinginan kandidat, namun ada baiknya tim HRD untuk menahan diri agar tidak memberikan beragam janji manis ataupun “angin surga” yang sebenarnya tidak bisa mereka tepati.


6. Kebijakan SDM yang Kurang Memadai

Hindari menganggap sepele tentang pentingnya audit SDM di skala internal perusahaan. Sisihkanlah waktu setiap tahun untuk bisa memastikan kebijakan SDM perusahaan dilakukan secara lengkap dan terupdate.


Contoh kasusnya, bila perusahaan tidak bisa memasukkan kebijakan vacation payout dalam buku atasan perusahaan atau proses pengaduan atau bencana dan kekerasan di lingkungan kerja, hal ini bisa menimbulkan kondisi di mana banyak karyawan yang mengundurkan diri karena perusahan tidak bisa menggunakan vacation payout dengan tepat.


Jika sebelumnya mereka tidak tahu tentang adanya peraturan vacation payout, tentunya karyawan akan mengajukan komplain.


7. Menilai Karyawan Secara Subjektif adalah Kesalahan Fatal Manaejem SDM

Kondisi ini sangat sering terjadi dengan tujuan untuk bisa lebih menyukai sesorang daripada yang lainnya. Namun, alangkah lebih baik jika hal ini dihindari hingga di luar lingkungan kantor.


Apabila manajemen SDM perusahaan menetapkan peranan ataupun tugas tertentu hanya untuk beberapa orang lain saja, ataupun ada ikatan khusus yang terbentuk diantara bos dan karyawan, maka hal ini akan memengaruhi karyawan lain, atau sederhananya terjadi kecemburuan sosial.


Berdasarkan kecenderungan atau kesukaan terhadap sebagian kecil karyawan ini, maka anggota manajemen SDM  yang memberikan perlakuan istimewa tidak akan mampu menciptakan suatu prestasi yang signifikan pada karyawan. Kondisi ini akan memengaruhi perasaan karyawan lainnya yang secara tidak langsung bisa mengakibatkan menurunnya produktivitas serta performa ditempat kerja.


Sehingga, yang terbaik adalah tidak melakukan penilaian subjektif ditempat kerja.

[20/4 11:36] Falensius Mendrofa 🙏: 5).Bidang kegiatan apa saja yang memerlukan keahlian Manajemen Operasional : 1. Manajer Pabrik (Plant Manager) : manajemen pabrik termasuk keahlian di bidang perencanaan produksi, manajemen pembelian, manajemen persediaan, termasuk pengelolaan karyawan di bagian operasional maupun pengelolalaan sumber daya lainnya yang dipergunakan.

[20/4 11:37] Falensius Mendrofa 🙏: 6).1. manajemen puncak (top management), bertanggung jawab terhadap keseluruhan aktivitas suatu organisasi. tugasnya adalah merencanakan kegiatan dan strategi serta mengarahkan jalannya perusahaan.

2. manajemen menengah (middle management), membawahi dan mengarahkan kegiatan manajemen lainnya dan kadang langsung pada karyawan operasional, sebagai penghubung antara manajemen puncak dan manajemen bawah. tugasnya adalah menggerakkan, memahami, dan memotivasi orang lain, baik secara individu maupun kelompok.

3. manajemen lini pertama (first-line management), manajemen tingkat paling rendah. bertanggung jawab melaksanakan keputusan dan rencana yang ditetapkan manajemen tingkat menengah yang mencakup prosedur, teknik, pengetahuan, dan keahlian dibidang khusus. tugasnya yaitu memimpin dan mengawasi tenaga operasional.

[20/4 11:42] Falensius Mendrofa 🙏: 7).Tiga pendekatan rasional yang sering digunakan oleh seorang manajer untuk pengambilan keputusan, yaitu: Model Klasik, Model Administratif, Model Politik

😉Model Klasik, yaitu tipe ideal Webwer, yang memiliki dua komponen dasar, yaitu sebuah kerangkan dari organisasi serta cara-cara yang dipergunakan untuk mengatur orang dalam organisasi. Dengan model ini terdapat struktur serta manajemen sangat berhungan erat yang tidak dapat terpisahkan.

😉Model Administratif (The Administrative Model) adalah model pengembangan kurikulum yang paling lama dan paling dikenal. Diberi nama model administratif atau line staff karena inisiatif dan gagasan pengembangan datang dari para administrator pendidikan dan menggunakan prosedur administrasi

😉Model sistem politik yang paling sederhana akan menguraikan masukan (input) ke dalam sistem politik, yang mengubah melalui proses politik menjadi keluaran (output). Dalam model ini masukan biasanya dikaitkan dengan dukungan maupun tuntutan yang harus diolah oleh sistem politik lewat berbagai keputusan dan pelayanan .

[20/4 11:44] Falensius Mendrofa 🙏: 8).Tahapan tahapan dalam proses pengambilan keputusan yaitu :

Mengidentifikasi masalah.

mengumpulkan informasi.

Memprediksikan kemungkinan yang terjadi.

Mengambil keputusan alternatif.

Mengevaluasi hasil.

[20/4 11:46] Falensius Mendrofa 🙏: 9).Planning (Perencanaan)

George R. Terry dalam bukunya Principles of Management (Sukarna, 2011: 10) mengemukakan tentang Planning sebagai berikut, yaitu “Planning is the selecting and relating of facts and the making and using of assumptions regarding the future in the visualization and formulation to proposed of proposed activation believed necesarry to accieve desired result”.Perencanaan adalah pemilih fakta dan penghubungan fakta-fakta serta pembuatan dan penggunaan perkiraan-perkiraan atau asumsi-asumsi untuk masa yang akan datang dengan jalan menggambarkan dan merumuskan kegiatan-kegiatan yang diperlukan untuk mencapai hasil yang diinginkan.”


Organizing (Pengorganisasian)

Pengorganisasian tidak dapat diwujudkan tanpa ada hubungan dengan yang lain dan tanpa menetapkan tugas-tugas tertentu untuk masing-masing unit. George R. Terry dalam bukunya Principles of Management (Sukarna, 2011: 38) mengemukakan tentang organizing sebagai berikut, yaitu “Organizing is the determining, grouping and arranging of the various activities needed necessary forthe attainment of the objectives, the assigning of the people to thesen activities, the providing of suitable physical factors of enviroment and the indicating of the relative authority delegated to each respectives activity.


“…Pengorganisasian ialah penentuan, pengelompokkan, dan penyusunan macam-macam kegiatan yang dipeelukan untuk mencapai tujuan, penempatan orang-orang (pegawai), terhadap kegiatan-kegiatan ini, penyediaan faktor-faktor physik yang cocok bagi keperluan kerja dan penunjukkan hubungan wewenang, yang dilimpahkan terhadap setiap orang dalam hubungannya dengan pelaksanaan setiap kegiatan yang diharapkan.


Terry (Sukarna, 2011: 46) juga mengemukakan tentang azas-azas organizing, sebagai berikut, yaitu :


The objective atau tujuan.

Departementation atau pembagian kerja.

Assign the personel atau penempatan tenaga kerja.

Authority and Responsibility atau wewenang dan tanggung jawab.

Delegation of authority atau pelimpahan wewenang.

Actuating (Pelaksanaan /Penggerakan)

Menurut George R. Terry dalam bukunya Principles of Management (Sukarna, 2011: 82) mengatakan bahwa


Actuating is setting all members of the group to want to achieve and to strike to achieve the objective willingly and keeping with the managerial planning and organizing efforts.


“….Penggerakan adalah membangkitkan dan mendorong semua anggota kelompok agar supaya berkehendak dan berusaha dengan keras untuk mencapai tujuan dengan ikhlas serta serasi dengan perencanaan dan usaha-usaha pengorganisasian dari pihak pimpinan.


Definisi diatas terlihat bahwa tercapai atau tidaknya tujuan tergantung kepada bergerak atau tidaknya seluruh anggota kelompok manajemen, mulai dari tingkat atas, menengah sampai kebawah. Segala kegiatan harus terarah kepada sasarannya, mengingat kegiatan yang tidak terarah kepada sasarannya hanyalah merupakan pemborosan terhadap tenaga kerja, uang, waktu dan materi atau dengan kata lain merupakan pemborosan terhadap tools of management. Hal ini sudah barang tentu merupakan mis-management.


Tercapainya tujuan bukan hanya tergantung kepada planning dan organizing yang baik, melainkan juga tergantung pada penggerakan dan pengawasan. Perencanaan dan pengorganisasian hanyalah merupakan landasan yang kuat untuk adanya penggerakan yang terarah kepada sasaran yang dituju. Penggerakan tanpa planning tidak akan berjalan efektif karena dalam perencanaan itulah ditentukan tujuan, budget, standard, metode kerja, prosedur dan program. (Sukarna, 2011: 82-83).


Faktor-faktor yang dierlukan untuk penggerakan yaitu:


Leadership (Kepemimpinan)

Attitude and morale (Sikap dan moril)

Communication (Tatahubungan)

Incentive (Perangsang)

Supervision (Supervisi)

Discipline (Disiplin).

Controlling (Pengawasan)

Control mempunyai perananan atau kedudukan yang penting sekali dalam manajemen, mengingat mempunyai fungsi untuk menguji apakah pelaksanaan kerja teratur tertib, terarah atau tidak. Walaupun planning, organizing, actuating baik, tetapi apabila pelaksanaan kerja tidak teratur, tertib dan terarah, maka tujuan yang telah ditetapkan tidak akan tercapai. Dengan demikian control mempunyai fungsi untuk mengawasi segala kegaiatan agara tertuju kepada sasarannya, sehingga tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai.


Untuk melengkapi pengertian diatas, menurut George R. Terry (Sukarna, 2011: 110) mengemukakan bahwa Controlling, yaitu:


Controlling can be defined as the process of determining what is to accomplished, that is the standard, what is being accomplished. That is the performance, evaluating the performance, and if the necessary applying corrective measure so that performance takes place according to plans, that is conformity with the standard.


“…Pengawasan dapat dirumuskan sebagai proses penentuan apa yang harus dicapai yaitu standard, apa yang sedang dilakukan yaitu pelaksanaan, menilai pelaksanaan, dan bilaman perlu melakukan perbaikan-perbaikan, sehingga pelaksanaan sesuai dengan rencana, yaitu selaras dengan standard (ukuran).


Terry (Sukarna, 2011: 116), mengemukakan proses pengawasan sebagai berikut, yaitu:


Determining the standard or basis for control (menentukan standard atau dasar bagi pengawasan)

Measuring the performance (ukuran pelaksanaan)

Comparing performance with the standard and ascerting the difference, it any (bandingkan pelaksanaan dengan standard dan temukan jika ada perbedaan)

Correcting the deviation by means of remedial action (perbaiki penyimpangan dengan cara-cara tindakan yang tepat).

[20/4 11:47] Falensius Mendrofa 🙏: 10).Dalam setiap perusahaan, tugas manajer yang paling pokok adalah memimpin, mengarahkan, dan mengawasi staf untuk bekerja sama mencapai tujuan organisasi. Seorang manajer yang hebat akan membentuk tim yang bekerja untuk membantu perusahaan mewujudkan visi bisnis.


Terimakasih 😉




























Komentar